Andai makhluk ruang angkasa memang ada, bayangkan apa reaksi mereka mendengar musik ciptaan manusia di Bumi. Mana yang lebih cocok dengan pendengaran makhluk luar angkasa, musik ciptaan Johann Sebastian Bach, Ludwig van Beethoven, Mozart, atau musik lain yang belum semasyhur karya-karya mereka?
Tanda tanya ini memang belum terjawab sampai kini, meski tahun 1977 pesawat Voyage dalam misinya ke angkasa luar membawa serta 27 rekaman musik, di antaranya sejumlah komposisi ciptaan ketiga komposer klasik tadi. Para ahli pasti penasaran dan kita boleh juga penasaran. Soalnya satu dari musik yang dipilih untuk dibawa adalah musik asal Indonesia. Tepatnya asal Jawa, yaitu gending Ketawang Puspawarna, ciptaan Mangkunegara IV.
Dalam urut-urutan (sequence) 27 musik yang dibawa ilmuwan NASA itu, Ketawang Puspawarna ada pada urutan kedua, dengan durasi empat menit 43 detik, sesudah karya Bach, Brandenburh Concerto No 2 in F.
Proyek untuk membawa contoh musik ini ke luar angkasa dipersiapkan selama bertahun-tahun oleh para ahli. Kriteria utama dalam memilih musik tersebut adalah tak sekadar musik itu sudah dikenal masyarakat, tetapi juga memberi kontribusi untuk berbagai budaya.
Jarang yang tahu kalau langgam Ketawang Puspawarna ciptaan Mangkunegara IV adalah lagu yang dipilih oleh NASA (Badan Antariksa Amerika Serikat) untuk dikirim ke angkasa luar, untuk memancing suara ke Planet Neptunus. Ketawang Puspawarna dinilai sebagai sebuah lagu dengan harmonisasi terbaik yang diciptakan manusia dan salah satu pencapaian tertinggi dalam sejarah musik manusia. Batik pun tidak kalah hebatnya, kain tulis lokal asli Jawa ini hampir diadopsi sebagai kain adat di seluruh dunia, tak terkecuali Malaysia, Thailand, India, sampai beberapa negara di Afrika. Bahkan batik pun telah dijadikan sebagai term internasional yang dapat ditemui di Oxford Dictionary dan dijadikan sebagai kain nasional Afrika Selatan, karena Nelson Mandela sangat bangga memakai batik buatan Indonesia.
Lalu bagaimana sampai Ketawang Puspawarna bisa diikutsertakan? Ki Tjokrowasito yang menggarap musik ini pasti tak menyodor-nyodorkan karyanya kepada tim. Apalagi ada kriteria bahwa musik yang akan dikirim harus menyentuh hati, juga pikiran. “Bila kami tidak mengirim dengan perasaan sepenuh hati, mengapa pula kami harus mengirim semua (musik-musik) itu,” tulis musikolog Robert Brown saat memulai proyeknya, sebagaimana ditulis dalam buku Murmur of Earth, the Voyager Interstellar Record (Random House New York, 1978).
Buku yang ditulis Carl Sagan dan kawan-kawan menyinggung pula betapa tidak mudah memenuhi kriteria pertama, antara lain karena bias kultural dan kurangnya informasi tentang budaya-budaya di seantero dunia. Belum lagi kendala ketersediaan rekaman.
Ribuan rekaman musik Bach dengan mudah bisa diperoleh di dunia Barat, demikian antara lain tulis Sagan. Sementara hanya ada sedikit musik koor Gregorian atau lagu-lagu Afrika. Pemain musik China nyaris tak ada, untung masih ada catatan tentang ini. Namun, untuk musik gamelan Jawa yang ditulis komposer, tulis Sagan, sama sekali tak ditemukan.
Robert Brown merekam Ketawang Puspawarna atau yang kemudian diterjemahkan dengan Kinds of Flowers, Januari 1971, dalam bentuk orkestra yang dimainkan 35 orang, dengan belasan penyanyi.
Ini memang soal, bukan buat tim ahli yang harus bertanggung jawab atas pengiriman contoh musik ke angkasa luar, tetapi bukankah ini soal kita? Berapa banyak orang Indonesia yang mengenal gending Ketawang Puspawarna?
sumber tulisan : rangkuman dari beberapa sumber
Bagi yang ingin mendengar gending Ketawang Puspawarna silahkan klik di sini.


belum denger lagunya sih.. jadi blm bisa kasih komen… btw matur suwun linknya lagi tak sedot…… heheee
==================
inggih…
matur nuwun sampun rawuh teng blog kulo…
Peace !
Ada lagi satu sumbangan Indonesia dalam kamus itu
)
“running amock”
=============